Sabtu, 11 Februari 2017

Islam Rahmatan Lil Alamin Sebagai Senjata Teoritik Melawan Kapitalisme!

PADA kesempatan kali ini, kita masih akan melanjutkan pembahasan sebelumnya, perihal relasi Islam rahmatan lil alamin dan kapitalisme. Sebelumnya kita telah melihat Islam rahmatan lil alamin secara semantik dan mendudukkannya dalam konteks historis hari ini melalui kritik atas tendensi Liberalisme Islam yang mensejajarkan dan mengoperasikan Islam rahmatan lil alamin dalam sistem kapitalisme. Bahkan secara spesifik telah kita tunjukkan bahwa Islam rahmatan lil alamin tidak pernah bisa compatible dengan kapitalisme kapanpun dan dimanapun (fi kulli zaman wa makan). Maka tiba saatnya kini kita mulai suatu pengantar penyelidikan teoritik terhadap apa yang disebut dengan ‘kategori-kategori diskursif’ yang selama ini dianggap mapan (fixed) dalam diskursus pemikiran Islam Indonesia —terutama sekali pada proyek Pembaruan Pemikiran Islam selama rentang waktu empat dekade terakhir ini, yang mendapati kebuntuan teoritiknya dalam Liberalisme Islam— sebagai jalan kelahiran pemikiran Islam Indonesia yang bersih dari residu liberalisme. Baca Selanjutnya

Senin, 06 Februari 2017

How To Get Rid of Ahok

Semuanya dimulai dari cuitan Ulil Abshar Abdalla. Dalam cuitan di akun twitter dia yang memiliki lebih dari 500 ribu pengikut, @Ulil mengatakan dengan sangat keras bahwa Ahok, iya Ahok sang petahana Gubernur DKI yang mulutnya selalu melontarkan komentar-komentar kontroversial yang tidak perlu itu, harus dihilangkan. Ulil menggunakan kata “get rid of him” yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti “mengenyahkan” atau “membunuh”. Secara lengkap cuitan Ulil berbunyi:

“Ahok is a BIG liability for our social fabric as a (still) fragile nation. We should get rid of him. Too dangerous.”

Anda yang membaca tulisan ini pasti tahu siapa Ulil Abshar Abdalla. Dia adalah dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL), organisasi yang menyodorkan pemikiran liberalisme untuk melawan arus konservatisme di kalangan Muslim Indonesia. Dengan latar belakang sebagai seorang liberal, jika Ulil benar-benar seorang liberal sejati, maka cuitan dia bersifat kontradiktif terhadap seluruh ideologi liberalisme yang dia percaya dapat membuat masyarakat Indonesia maju dan makmur seperti negara-negara Barat yang sangat dia kagumi.

Bagaimana mungkin seorang liberal yang menghargai hak-hak individu, baik dalam bertindak maupun bersuara, mengancam akan “menghilangkan” orang lain hanya karena dia beranggapan bahwa Ahok “too dangerous” buat bangsa Indonesia yang menurut Ulil masih ringkih?

Ulil akhirnya mengeluarkan serangkaian cuitan untuk mengklarifikasi maksud cuitan dia tentang Ahok. Dan tidak ketinggalan kawan karib Ulil, Akhmad Sahal alias @SahaL_AS pun, memberi penjelasan tambahan untuk membela teman sesama pendiri Jaringan Islam Liberal ini.

Tapi apakah Ulil benar bahwa kita sebaiknya mengenyahkan Ahok karena dia adalah ancaman bagi kerukunan bangsa? Baca Selanjutnya

Kamis, 26 Januari 2017

Siapa Merebus Sentimen Sosial Kita?

Indonesia kita kini berada dalam situasi di mana berbagai sentimen sosial sedang direbus habis-habisan. Sentimen sosial ini begitu riuh, direbus sebagai isu-isu sensitif atau isu sederhana namun sedemikian rupa dibuat sensitif secara kolektif dalam kuali sosial kita. Beberapa isu lama, hoax, dan fitnah pun digunakan untuk merebus sentimen kolektif.

Kebencian menyebar ke mana-mana, dijadikan alat yang memang efektif untuk mendidihkan air sentimen sosial. Dalam proses perebusan sentimen sosial habis-habisan ini, etiket dan etika sosial lumer di bahwa pantat para perebus.

Sebenarnya wajar belaka bahwa berbagai isu berkontestasi dalam kehidupan sosial untuk merebut pengaruh satu sama lain. Namun fenomena mutakhir kita menunjukkan bahwa berbagai isu diangkat tidak lagi dalam kerangka persaingan merebut pengaruh secara dewasa dalam suatu sistem demokrasi yang sehat. Kontestasi budaya dan politik tidak lagi bermartabat. Lebih dari sekadar kontestasi kekuatan-kekuatan sosial, perebusan sentimen sosial secara habis-habisan tanpa disadari telah menjadi tujuan pada dirinya sendiri.

Sentimen adalah perasaaan, pandangan dan/atau sikap berlebihan tentang sesuatu. Karena berlebihan, secara umum ia menjurus pada hal negatif, apalagi bila sentimen itu dibangun pada tataran kolektif menjadi sentimen sosial. Secara ekstrem dapat dikatakan, sentimen sosial adalah perasaan tidak suka terhadap (kelompok) orang lain atas alasan tertentu, terutama atas alasan perbedaan.

Perasaan tidak suka ini direbus terus hingga menjadi kebencian (kelompok) terhadap (kelompok) orang lain. Dan, kebencian akan melahirkan kebencian lagi, bahkan bisa tak berujung sebagai spiral kebencian sosial. Kini kebencian sosial merupakan teror baru yang tentu saja menakutkan bagi kelompok sosial yang dibenci.

Secara umum, sentimen sosial direbus melalui berbagai isu etnis, politik, ideologi, dan agama (baik interagama maupun antaragama). Isu-isu itu demikian konkret belakangan ini. Misalnya, sentimen anti-Tionghoa di(muncul)kan kembali, terutama berkaitan dengan isu politik pemilihan gubernur DKI Jakarta. Baca Selanjutnya

Sabtu, 21 Januari 2017

Quraish Shihab: Pesan Semua Agama Adalah Mencari Kedamaian

Sejumlah habib saat ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat di Tanah Air. Terutama, adanya pro dan kontra mengenai kiprah mereka.

Lalu, bagaimana sebenarnya makna habib? Menurut ulama Muhammad Quraish Shihab, habib adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang tertentu.

"Gelar (habib) itu datang dari masyarakat, bukan dari sang habib," ucap Quraish Shihab saat berbincang dengan tim Liputan6.com di kediamannya, Jakarta, beberapa hari lalu.

Menurut Menteri Agama ke-16 RI tersebut, gelar habib itu seperti halnya dengan kiai. "Pak kiai itu bukan yang berkata saya kiai, tetapi masyarakat yang memberi gelar bahwa orang ini wajar dinamai kiai."

"Dan gelar habib itu menurut segi bahasa mempunyai dua makna, yang mencintai dan dicintai. Jadi tidak cukup dicintai, jadi harus pula mencintai," tutur mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Pada mulanya, imbuh Quraish, ada tiga syarat yang harus dimiliki seorang habib. Yaitu, keturunan Nabi Muhammad SAW atau Rasulullah, berilmu luas, dan berakhlak luhur.

Pesan Damai

Ulama kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan itu pun mencermati gejolak yang terjadi di Indonesia, belakangan ini. Quraish Shihab yang kini genap berusia 72 tahun menilai, gejolak tersebut lahir dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Karena ada yang tidak menyenangkan, maka lahirlah protes sehingga ada upaya untuk mengubah apa yang tidak baik menjadi baik. Baca Selanjutnya

Selasa, 17 Januari 2017

Pesan Quraish Shihab untuk Umat Muslim: Mari Cari Kedamaian

Kebhinekaan Indonesia sedang diuji. Sejumlah pihak dianggap tengah berupaya memecah belah bangsa mengatasnamakan agama.

Mantan Menteri Agama Muhammad Quraish Shihab menilai gejolak yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini lahir dari sesutau yang tidak menyenangkan. Karena ada yang tidak menyenangkan maka lahirlah protes sehingga ada upaya untuk mengubah apa yang tidak baik menjadi baik.

"Carilah sebabnya lalu kita perbaiki. Dalam konteks memperbaiki itu dalam agama dikatakan apabila Anda ingin memperbaiki sesuatu dengan mengambil suatu langkah tapi langkah Anda berdampak lebih buruk dari apa yang Anda alami, maka jangan lakukan itu," kata Quraish dalam wawancara khusus dengan Liputan6.com di kediamannya, Jakarta, Senin 16 Januari 2017.

"Jadi jangan sampai gejolak yang ada ini menjadikan kita berpecah belah, menjadikan negara kesatuan ini berantakan. Itu prinsip saya," imbuh ahli tafsir ini.

Menurut Quraish, selain berusaha memperbaiki, semua pihak hendaknya mengintrospeksi diri. Bila masing-masing pihak bertahan dengan argumennya, Indonesia bisa mengalami krisis seperti yang terjadi di Timur Tengah.

"Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki. Membutuhkan introspeksi, dan juga kesadaran, dan boleh jadi yang keterlaluan membutuhkan ketegasan. Ketegasan itu bukan berarti membunuh, memukul. Kita sesuaikan dengan kondisi yang ada. Jangan sampai mengakibatkan sesuatu yang lebih parah," ungkap dia.

"Marilah kita kembali ke pesan semua agama, yaitu mari kita mencari kedamaian," Quraish memungkas.

Jumat, 13 Januari 2017

Jakarta Tak Butuh Lee Kuan Yew

Dalam kampanye awal Desember lalu, Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok berjanji kualitas infrastruktur dan pelayanan publik ibu kota akan menyamai Singapura pada 2018. “Jadi kalau mau lihat Jakarta seperti Singapura 2018 ya kasih saya kesempatan,” tandasnya.

Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Kishore Mahbubani, pernah mengatakan, “dia (Ahok) ingin mengerjakan sesuatu sampai selesai, bukan melihat rencana-rencana saja. Inilah yang dilakukan Lee Kuan Yew (LKY), yang saya lihat ada di diri Ahok.”

Melalui tulisan ini, saya hendak menjelaskan kemiripan gaya kepemimpinan Ahok dengan LKY dan berpendapat model tersebut melenceng dari tujuan kita berbangsa dan bernegara.

Tentang Lee Kuan Yew


Beberapa ratus kata tidak akan bisa memberikan gambaran utuh tentang Bapak Pendiri Singapura.

Berkat pengabdiannya selama 31 tahun sebagai Perdana Menteri, Singapura kini menjadi negara maju dengan pemerintahan yang bersih dari korupsi, layanan kesehatan modern nan terjangkau, sistem pendidikan berkualitas unggul, salah satu PDB per kapita tertinggi di dunia dan inovasi teknologi berkelanjutan.

Singapura adalah keajaiban ekonomi Asia.

LKY adalah seorang pragmatis yang tidak bicara “apakah ini benar?”, melainkan “apakah ini efektif?” Sistem ekonomi komando tidak pernah ada dalam kamusnya. Ia memuja Friedrich Hayek dan sistem pasar terbuka. Baca Selanjutnya

Rabu, 11 Januari 2017

Melawan Sistem Registrasi Parpol di Indonesia: Perbandingan dengan India dan Eropa

SEPERTI halnya di negara demokrasi nan beradab lainnya, partai politik telah menjadi alat bagi kaum pergerakan kita untuk memperjuangkan kepentingan publik. Di masa penjajahan Belanda, berbagai partai politik dibentuk tanpa menghiraukan larangan pemerintah kolonial. Banyak yang terang-terangan memperjuangkan Indonesia merdeka, tapi tak sedikit yang bertekad lebih jauh lagi dengan melawan kapitalisme. Dan saat Dewan Rakyat (Volksraad) dibuat pemerintah kolonial Belanda sebagai lembaga perwakilan wilayah jajahan, sebagian parpol itu ikut menempatkan para legislatornya untuk menjalankan fungsinya memperjuangkan kepentingan masyarakat tersebut. Dengan kata lain, berjuang melalui parpol adalah hal yang normal bagi aktivis pergerakan, baik moderat maupun radikal, kiri maupun kanan.

Setelah diselingi masa pelarangan parpol oleh penjajah Jepang, situasi itu berlanjut setelah proklamasi kemerdekaan hingga munculnya Orde Baru. Sayangnya, hal itu jauh berubah saat ini. Mayoritas aktivis, terutama yang kiri, bukan cuma meninggalkan ide berpartai, tapi juga melecehkannya. Golput terus (di)lestari(kan), bahkan Pemilu diboikot. Akibatnya, parpol maupun keluarannya – terutama anggota DPR – disesaki oleh para oportunis dan perampok dana publik. Dan kenyataan itu semakin membuat parpol dilecehkan. Makin paripurnalah lingkaran setan itu.

Tentu saja sikap anti parpol ini sangat wajar dan mudah dimengerti, terutama mengingat busuknya sistem kepartaian ala Orde Baru. Adalah realita bahwa parpol-parpol yang ada saat ini lebih mewakili kepentingan kelompok mereka ketimbang masyarakat banyak. Namun sangat disayangkan bila sikap tersebut juga mengikis kepercayaan perlunya parpol baru sebagai pilihan alternatif bagi parpol busuk tersebut. Di samping itu, tradisi perjuangan melalui parpol yang menjadi ciri khas kaum pergerakan sejak satu abad lalu turut terhapus begitu saja. Meski perlu dicatat bahwa ada saja kelompok-kelompok yang tetap mau berjuang memunculkan parpol baru tersebut. Tapi tantangan mereka sungguh dahsyat, baik dari dalam kalangan aktivis kiri sendiri maupun dari rezim oligarki partai yang ingin memelihara status quo. Baca Selanjutnya

Selasa, 10 Januari 2017

Internet Tidak Dirancang untuk Anak-anak

Anne Longfield dari Komisaris Anak Inggris beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa anak-anak tidak siap menghadapi layanan di mana mereka ikut mendaftar di internet dan sering memberikan informasi pribadi. Anak-anak juga tidak tahu bagaimana data mereka sedang digunakan karena syarat dan ketentuan layanan yang sangat sulit untuk dimengerti anak-anak. Dia mengatakan bahwa internet tidak dirancang untuk anak-anak meskipun saat ini mereka merupakan pengguna terbesar.

Layanan seperti Facebook atau Instagram memiliki persyaratan umur di mana anak-anak di bawah 13 tahun tidak bisa menggunakannya. Namun yang kita lihat adalah anak-anak usia di bawah 13 tahun, bahkan baru berumur 5-7 tahun sudah memiliki akun Facebook.

Ini patut menjadi perhatian semua pihak, terutama orangtua, guru dan pemerintah. Melarang anak-anak untuk mengakses konten di internet rasanya mustahil. Orangtua kini tidak bisa lagi memberikan larangan karena cukup banyak faktor yang pada akhirnya membuat anak bisa mengakses internet. Terlebih ada kecenderungan orangtua memberikan akses internet kepada anak tanpa pengawasan yang sepadan.

Pemerintah juga tidak memiliki program serius untuk melindungi anak di internet. Pemerintah cenderung berlepas tangan dan menyerahkan keamanan anak di internet ke individu atau orangtua. Kalau pun ada, usaha tersebut parsial dan bukan sebuah program nasional untuk menyelamatkan anak di internet.

Oleh karena internet tidak dirancang untuk anak-anak, anak-anak akan dengan mudah sekali terpengaruh konten negatif atau mengonsumsi konten dewasa. Terlebih di internet kini berkembang berbagai kejahatan terhadap anak seperti bullying, pelecehan seksual terhadap anak-anak, dan berbagai kejahatan terhadap anak lainnya. Anak-anak tidak akan bisa membela diri mereka terhadap kejahatan tersebut. Terlebih lagi, sepertinya ada pembiaran anak-anak berjuang sendiri di internet oleh orangtua mereka. Baca Selanjutnya

Senin, 09 Januari 2017

Memerangi Hoax dengan Blokir dan Tangkap?





Sabtu, 07 Januari 2017

Tuhan Perlu Dibela

Apakah Tuhan perlu dibela? Tiga puluh lima tahun silam, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang kala itu lebih dikenal sebagai pemikir, mencoba menyambangi pertanyaan ini. Ia menulis satu kolom di majalah Tempo, Juni 1982, dengan tajuk yang mungkin sudah pernah Anda dengar di suatu tempat. “Tuhan Tidak Perlu Dibela.”

Tulisan tersebut dibuka dengan anekdot seorang sarjana yang baru pulang dari studinya di luar negeri. Sepanjang delapan tahun, X, sebutan sang pemuda, belajar di negeri di mana Islam bukan agama mayoritas. Sepulang ke Indonesia, X terenyak. Ke mana ia berjalan, ia menjumpai kemarahan orang Muslim. Ia menjumpainya di majalah Islam. Ia menjumpainya dalam pidato para mubaligh dan dai. Ia menjumpainya pada penolakan terhadap ilmu pengetahuan modern. Ia menjumpainya dari kecaman terhadap ekspresi-ekspresi kesenian dan kebudayaan.

Masygul, X lantas menemui sejumlah ahli agama dengan harapan ia akan memperoleh tanggapan yang bijak terhadap kemarahan-kemarahan ini. Hasilnya, nihil. Alih-alih mendapatkan apa yang diinginkannya, ia malah diminta mencontoh sikap para agamawan itu. “Kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar kiai pesantren yang merupakan paman X.

X akhirnya memperoleh jawaban yang menenangkan dari seorang guru tarekat. “Jawabannya,” menurut sang guru, “sederhana saja. Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya.” Mendengar penegasan bahwa kebenaran Tuhan tidak akan terkikis oleh keraguan manusia, sang pemuda mendapat ketenteramannya. Ia tidak lagi merasa bersalah berdiam diri.

Tiga puluh lima tahun berselang, Anda tahu, tulisan ini masih menggerayangi pikiran banyak orang. Banyak dari antaranya merasa jawaban Gus Dur terhadap kegusaran X tak bertanggung jawab. Drama, kegelisahan, dan permenungan X tak lebih dari proyeksi pikiran liberal yang fasik. Namun, kalau kita cermati, Gus Dur sebenarnya mengakhiri kolomnya dengan pernyataan mengganjal. “Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.” Baca Selanjutnya

Kamis, 05 Januari 2017

Mempertanyakan Kembali Hubungan Logis dalam Penelitian Keilmuan

Penilaian mengenai apa yang logis dan apa yang tidak logis berpengaruh terhadap penilaian mengenai apa yang ilmiah dan apa yang tidak ilmiah dalam sebuah penelitian keilmuan. Penilaian mengenai apa yang ilmiah dan apa yang tidak ilmiah itu sendiri merupakan dasar bagi penilaian mengenai kebenaran. Sebuah pernyataan dianggap benar jika ia bersifat logis dan ilmiah, dan demikian juga sebaliknya. Masalah besar muncul ketika apa yang disebut atau diterima sebagai hubungan logis ternyata jika ditelusuri lebih jauh hanya merupakan hubungan logis yang bersifat permukaan saja, sehingga derajat kelogisannya sebenarnya lemah. Melalui konsep “rentang-keterkaitan” dan “daya jelas”, tulisan ini mencoba menguraikan dan membuat problematisasi atas persoalan hubungan logis dalam penelitian ilmu ekonomi.

Mempertanyakan Kembali Hubungan Logis

Apa hubungan turunnya tingkat kejahatan di Amerika dengan dilegalkannya aborsi? Barangkali tak ada orang yang berani memastikan hubungan antara keduanya selain Steven Levitt. Lewat serangkaian riset yang kemudian dipublikasikan di beberapa jurnal, Levitt mengajukan teori tak terduga mengenai hubungan keduanya.

Sebelumnya adalah James Alan Fox, seorang kriminolog, yang dalam sebuah laporan untuk Kejaksaan Agung Amerika Serikat pada 1995 menuliskan sejumlah asumsi seram berkaitan dengan potensi kejahatan yang mungkin dilakukan remaja. Fox mengajukan dua skenario untuk memaparkan gagasannya, yaitu skenario optimistis dan pesimistis. Dalam skenario optimis, Fox meramalkan bahwa tingkat pembunuhan yang melibatkan remaja akan meningkat 15 persen dalam satu dasawarsa mendatang. Catatan kriminal bakal begitu buruk sehingga tahun 1995 bakal dikenang sebagai saat-saat yang penuh kedamaian, demikian tulis Fox. Sementara skenario pesimisnya bernilai dua kali lebih buruk: kenaikan angka kejahatan bisa dua kali lipat dari angka optimisnya. Tentu saja Fox bukan satu-satunya orang yang berpendapat demikian kala itu. Para ilmuwan, kriminolog dan pakar lainnya juga menyuarakan pendapat yang sama.

Tapi apa yang kemudian terjadi setelah itu? Baca Selanjutnya

Rabu, 04 Januari 2017

Bapak Angkat Saya Anggota Organisasi Papua Merdeka

Sore itu, hari ke lima saya tinggal seorang diri di rumah guru, dan hari kedua penyakit malaria menyerang tubuh. Sebelumnya saya sudah memelihara plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana sejak 2008. Di Papua, plasmodium yang bersemayam dalam tubuh bertambah, kali ini plasmodium falciparum yang membawa penyakit malaria bernama malaria tropicana.

Demam menyerang, kedinginan, tubuh menggigil. Saya menyelimuti seluruh tubuh. Tak berapa lama kondisi berubah. Panas terasa di sekujur tubuh, keringat kian deras bercucuran. Perut yang mual sebabkan saya memuntahkan isi perut berkali-kali. Segala yang masuk ke tubuh melalui mulut, kembali keluar dari mulut. Untuk sekadar air putih pun begitu. Betapa tersiksanya saya saat itu. Kalian yang merasa penderitaannya sudah sampai puncak hingga pada tahap mengenaskan karena status jomblo dan tak kunjung mendapat pasangan, hingga kemudian remuk redam dihantam kenangan, sebaiknya cobalah merasakan betapa menderitanya diserang malaria. Niscaya kalian akan sadar, bahwa penderitaan kalian belum ada seupil-upilnya penderitaan karena malaria.

Obat malaria yang saya bawa dari Jakarta sama sekali tak berguna. Demam terus berlanjut, kadang dingin kemudian panas. Muntah-muntah tak kunjung usai hingga cairan kuning yang terasa asam di lidah dimuntahkan lambung menuju tenggorokan dan berceceran di lantai usai dikeluarkan mulut. Biadab.

Saat akhirnya semua itu sedikit mereda jelang hari gelap, pintu rumah diketuk. Saya berjalan tertatih, memaksa diri untuk membukakan pintu. Bagaimanapun juga, sebagai manusia yang menjunjung adab ketimuran, saya harus menghormati tamu. Membukakan pintu untuknya dan menyilakan tamu saya masuk.

Pintu saya buka, dua orang tamu yang datang mengejutkan saya. Bertubuh gempal dengan otot menyembul di lengan, dada, paha dan kaki. Wajah mereka dipenuhi jenggot yang lebat. Berkoteka dan membawa noken yang mereka bebankan di kepalanya, sementara tangan kiri mereka menjinjing anak panah dan busurnya. Sekilas saya melihat tak ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Saya merasa mereka adalah dua orang yang kembar. Baca Selanjutnya

Selasa, 03 Januari 2017

Main Kayu

Film yang berdurasi kurang dari 60 menit ini menceritakan tentang kehidupan para pencari kayu hutan yang sering berseteru dengan perusahaan milik negara, Perhutani. Film ini menarik untuk didiskusikan karena film ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat di sekitar hutan yang aksesnya terhadap hutan dan kepemilikannya terhadap tanah di kawasan area di bawah penguasaan Perhutani tereksklusi.

Saat zaman Kolonial Belanda, para pencari kayu atau penebang kayu di hutan ini disebut blandong dan itu merupakan pekerjaan sehari-hari mereka. Namun sekarang blandong sudah berubah maknanya menjadi seorang pencuri kayu di hutan.Ini berarti, rakyat telah menjadi tamu di tanahnya sendiri. Karena pada awalnya, tanah yang berada di bawah penguasaan Perhutani ini adalah milik rakyat.


Senin, 02 Januari 2017

Cara Bersembunyi Demi Menjaga Privasi Online

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS membuat banyak orang khawatir dengan privasi dan keamanan mereka ketika online. Hal ini karena National Security Agency di bawah kendali Trump dipercaya akan melakukan pengawasan secara sangat serius.

Oleh karena itu adalah semakin penting untuk menjaga privasi ketika online. Pertanyaannya bagaimana caranya? Tiga hal berikut ini dapat Anda lakukan.

Chatting dan e-Mail

Chatting dan pesan email yang paling mudah untuk dibuat menjadi private, tetapi meskipun demikian, pengguna harus memperhatikan dengan baik untuk membuat alat bekerja untuk mereka. Aplikasi chatting yang dienkripsi seperti WhatsApp, Signal dan Wickr membuat pesan terenkripsi end-to-end. Hal itu berarti penyedia aplikasi sendiri tidak bisa membacanya dan karena itu tidak dapat menyerahkannya kepada pemerintah. Aplikasi chat lainnya, termasuk Facebook Messenger dan Allo Google, menawarkan enkripsi end-to-end sebagai pilihan, bukan default sehingga lebih baik memilih aplikasi chatting yang default end-to-end. Baca Selanjutnya

Minggu, 01 Januari 2017

Pelajaran Berharga dari Mbah Moen, Gus Mus, dan Quraish Shihab

Di tengah-tengah krisis keteladanan, sebenarnya masih banyak ‘oase’ yang menjadi penyejuk dan penawar kedahagaan serta kerinduan umat akan contoh-contoh kebesaran hati ulama. Kesahajaan mereka jauh dari sorotan media, dan tetap tegar di tengah serangan sarkatik netizen di dunia maya.

Cerita yang dinukilkan Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia (IAAI), Muchlis M Hanafi tentang kunjungan dan silaturahim tiga guru besar, yaitu Prof M Quraish Shihab, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen), dan KH Mustofa Bisri mengajarkan kepada kita semua tentang banyak hal di antaranya kerendahhatian, penghormatan dan kecintaan terhadap ulama. Tiga hal tersebut serasa kian tergerus diterpa perilaku tak sedikit orang di media sosial yang kian tak beradab.

Berikut ini, kutipan penggalan kisah pertemuan tiga tokoh besar itu di sela-sela Seminar Nasional Tafsir Alquran yang dihelat PP al-Anwar, Sarang Rembang asuhan Mbah Moen beberapa waktu lalu yang diterima Republika.co.id:

Sisi Lain Kehidupan Kaum Santri

Tidak biasanya, di pojok ruang tamu kediaman Gus Mus yg sederhana dan bersahaja, tersedia tiga buah kursi dan meja. Semua tamu, tak terkecuali para pejabat, selalu diterima dengan lesehan.

Sore itu, Sabtu (24/12), agak berbeda. "Saya pinjam kursi ini dari tetangga", begitu seloroh Gus Mus menyambut Ustaz M Quraish Shihab (MQS), sambil mempersilakan MQS duduk di atas.

Gus Mus sendiri? Beliau lebih memilih duduk (ndesor) di bawah, seperti dalam gambar. Kalau tidak 'dipaksa' MQS, beliau pun enggan. "Kalau tidak mau duduk di sini, saya yang akan duduk di bawah", begitu kata MQS. Baca Selanjutnya

Sabtu, 31 Desember 2016

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya. Baca Selanjutnya

Jumat, 30 Desember 2016

Quraish Shihab: Hormati Pendapat Tak Berarti Menerimanya

Pakar tafsir Al-Qur’an Quraish Shihab mengajak kalangan pesantren dan seluruh masyarakat untuk senantiasa menghormati perbedaan dan mengembangkan budaya Islam yang damai. Ia  menegaskan, menghormati pendapat yang berbeda bukan berarti menerimanya.

Ia menyampaikan hal itu saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12), bersama keluarga besar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Forum dialog digelar di Aula Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng dan diikuti oleh ratusan kiai dan pengajar Al-Qur’an dari seluruh Jawa Timur.

"Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki budaya yang sangat plural. Karena itu, semua pendapat yang berbeda, harus kita hormati. Dan, menghormati pendapat yang berbeda itu bukan berarti menerimanya," kata ayah dari presenter Najwa Shihab ini.

Quraish lalu mencontohkan bagaimana muslimah Indonesia zaman dulu hanya mengenakan kerudung yang diselempangkan di kepala, dan tetap menampakkan sebagian rambut mereka. Berbeda dengan jilbab yang dikenakan perempuan zaman sekarang, yang menutupi seluruh kepala.

Menurut dia, para ulama zaman dahulu membiarkan praktik tersebut bukan tanpa dasar. Pasalnya, setiap pemikiran dan praktik keagamaan tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berlaku di masyarakat. "Pasti para ulama waktu itu mempertimbangkan konteks budaya yang berkembang di masyarakat," ujarnya.

Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an ini pun mengajak kalangan pesantren untuk menjadikan konteks budaya sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pemikiran dan studi Al-Qur’an. "Dalam konteks studi dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an, jangan sampai penafsiran kita tidak sejalan dengan budaya yang berkembang di masyarakat," imbuhnya.

Meski demikian, menurut lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini, penghormatan terhadap perbedaan juga dibatasi pada budaya dan pendapat yang mengarah pada kedamaian. "Semua pendapat yang berbeda, dari mana pun datangnya, selama bercirikan kedamaian, harus kita hormati. Pendapat yang berbeda dengan kita, tapi tidak bercirikan kedamaian, (harus) kita tolak," tegasnya. Baca Selanjutnya

Kamis, 29 Desember 2016

Gus Mus: Quraish Shihab, Habib yang Alim dan Mengasihi

Mufassir kontemporer Indonesia Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab mengunjungi dua ulama senior di Kabupaten Rembang, KH. Ahmad ‘Gus Mus’ Mustafa Bisri dan KH. Maimoen Zubair (24/12). Seperti disampaikan Prof. Nadirsyah Hosen di akun facebooknya (25/12), selain silaturahmi, Quraish Shihab juga ingin meminta agar cucunya didoakan oleh kedua pengasuh pondok pesantren itu.

Quraish Shihab yang datang beserta keluarga itu pun disambut suka cinta oleh Gus Mus dan keluarganya. “Alhamdulillah, mendapat keberkahan dan kehormatan dikunjungi orang alim, mufassir Indonesia, Prof. Dr. K.H. Quraish Shihab bersama anak-cucu dan rombongan dengan oleh-oleh seabrek buku karya beliau,” kata Gus Mus di akun facebooknya (24/12) dengan mengunggah sejumlah foto pertemuan kedua keluarga.

Kedatangan pria peraih doktor “Summa Cum Laude” dari Al Azhar itu menjadikan Gus Mus teringat salah satu karya yang bertajuk “Cahaya, Cinta, dan Canda”. Di buku tentang Quraish Shihab ini, Gus Mus pernah memberi endorsment singkat.

“Melihat anggun dan karismanya saat menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur’an atau ketika memberikan tausiah keagamaan, plus seabrek gelar dan titelnya, orang mungkin mengira bahwa Prof. Dr. KH. Quraish Shihab bukanlah manusia biasa. Tapi sejenis elite – seperti kebanyakan ulama, cendekiawan, habib, dan ‘superstar’ lain – yang tinggal di menara gading,” kata Gus Mus mengutip endorsment-nya kala itu.

Pengasuh Ponpes Raudhatu Thalibin ini mengaku mengenal Quraish Shihab secara pribadi dimana – seperti diketahui – keduanya pernah menuntut ilmu di Al Azhar Mesir. Sedemikian, Gus Mus tak segan menyapanya dengan sebutan ‘Om Quraish’ yang baginya justru merupakan panggilan kehormatan.

“Ini panggilan penghormatan (dari) hampir semua kawan Indonesia di Mesir yang mengenalnya,” katanya. Baca Selanjutnya

Rabu, 28 Desember 2016

Gus Mus Berkisah Ihwal Pertemuannya dengan Quraish Shihab

Keluarga KH Ahmad Mustofa Bisri mendapat kunjungan mufassir tersohor Indonesia Prof HM. Quraish Shihab, Sabtu (24/12). Gus Mus mengungkapkan kegembiraanya mendapat kunjungan Quraish Shihab dan keluarganya.

Di tengah obrolan, Gus Mus bertanya kepada Fathi, salah seorang cucu Prof. Quraish Shihab, "Engkau memanggil apa kepada kakekmu ini?" tanya Gus Mus. Riwayat ini dia tuliskan di akun facebook miliknya, Senin (26/12).

"Kami memanggilnya Habiib," jawab Fathi. Gus Mus pun bertanya kepada cucunya, Eqtada Bil Hadi Muhammad, "Engkau tahu artinya habiib?" Cucunya yang pemalu itu hanya senyum-senyum. “Aku pun menjelaskan bahwa habiib itu artinya kekasih,” jelas Gus Mus.

"Habiib itu," tiba-tiba Mufassir kita yang sedang dibicarakan panggilannya itu menukas, "Mengikuti wazan fa'iil yang bisa bermakna faa'il, bisa bermakna maf 'uul. Jadi, habiib itu seharusnya dikasihi dan mengasihi. Tidak hanya mau dikasihi saja, tapi tidak mau mengasihi," terang Prof Quraish.

“Dan aku bersaksi saudaraku yang alim ini memang Habiib yang mengasihi. Tidak hanya dikasihi. Maka aku sedih ketika ada yang sengaja memlesetkan pengajiannya tentang apa yang bisa memasukkan orang ke sorga,” ujar Gus Mus.

Dan pemlesetan itu, lanjutnya, di sosmed tersebar --disebarkan orang-orang awam yang tidak ngaji dan tidak terbiasa tabayun-- menjadi fitnah. “Bukan menyedihi saudaraku yang pasti tidak mempersoalkan hal itu. Tapi terutama aku kasihan kepada mereka yang hanya karena kebencian buta, menyebarkan fitnah,” tutur Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

“Maka ketika berulang kali aku membaca orang menghujat penulis se-abrek buku keislaman ini dengan berdasarkan fitnah tersebut, akhirnya aku terpaksa menjawab salah satunya dengan menjelaskan ucapan dengan konteks yang sebenarnya,” imbuh Gus Mus. Baca Selanjutnya

Senin, 26 Desember 2016

Telolet, Klakson, dan Ironi Jalanan Kita

Klakson berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “klazo” yang artinya “menjerit”. Ia adalah simbol teguran paling keras di jalan. Maka, jika ia masih dimodifikasi lagi agar lebih menyalak, ia tak lagi terdengar sebagai “jeritan”, tapi “umpatan”.

Dalam jeritan, asumsinya adalah terjadi kesalahan fatal pada kendaraan lain, sehingga perlu jalan terakhir berupa jeritan untuk menegurnya. Adapun jika klaksonnya telah dimodifikasi lebih menyalak, maka apa pun yang keluar darinya, kesalahan pasti justru kembali pada penekannya, bukan lagi objek klakson itu.

Persis seperti knalpot. Orang memaklumi bunyinya karena memang begitulah seharusnya agar motor beroperasi. Tapi, jika ia telah dimodifikasi lebih menyalak, maka tentu itu akan mengundang kemarahan orang-orang di sekitarnya. Saya termasuk yang sering tak mampu menahan amarah mendengar bisingnya knalpot modifikasi hingga terlontar spontan dan begitu saja doa buruk untuk pengendaranya.

Kebodohan pengendara motor berknalpot bising itu seolah menular ke saya, atau sebagian orang yang terpaksa ke mana-mana dengan headset di jalanan agar tak jadi korban kebisingan klakson dan knalpot. Akhirnya, jadilah lingkaran setan kebodohan di jalanan Jakarta seperti kerap kita saksikan setiap harinya.

Maka, dari klakson dan knalpot, kita sebenarnya bisa tahu karakteristik pemiliknya: sopan atau bodoh. Dalam laporan Kompas disebutkan bahwa di Jepang, Eropa, atau Amerika, jarang sekali orang membunyikan klakson lantaran tingginya rasa solidaritas dan disiplin berlalu lintas, sehingga praktis klakson hanya digunakan untuk menghalau hewan yang nyasar ke jalanan.

Tapi, di Jakarta, dengan klakson, kita seolah saling menuding hewan orang-orang di jalanan. Tan… ton… tan… ton. Semua yang di depan kita diposisikan seolah hewan yang nyasar ke jalanan, dan karenanya terus klakson berbunyi menghalau mereka. Kita merasa jalanan seolah milik engkong kita. Kita perkosa jalanan ibu kota. Sehingga lengkaplah derita ibu kota: polusi udara, polusi suara pula! Baca Selanjutnya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cobalah Tengok

Dartar Isi