Rabu, 11 Mei 2016

PKS Bukan Lenin

Sudah terlalu sering kita temui mereka-mereka yang mencolek Marxisme dan Leninisme untuk menambal pemikiran mereka yang bolong-bolong, dengan harapan kalau kilau Marxisme-Leninisme bisa membuat pemikiran mereka yang dangkal dan membosankan semakin menarik, atau justru menyilaukan mata kita dari buruknya gagasan mereka. Eduard Bernstein, bapak Sosial Demokrasi dan Reformisme, adalah satu figur yang begitu pandainya bermain-main dengan Marxisme untuk membenarkan Reformismenya. Tidak berani secara terus terang mengedepankan gagasan Reformismenya, ia meminjam ujar Marx dan Engels.

Ragil Nugroho dalam “PKS dan Lenin”nya melakukan hal yang serupa, tetapi akan tidak adil bagi Bernstein bila kita menyandingkannya dengan Nugroho. Colekan Nugroho kasar dan vulgar, yang di lain pihak membuat tugas saya menjawabnya begitu mudah. Namun tidak akan saya anggap sepele tulisannya, karena di dalamnya terkandung banyak pelintiran dan jebakan yang bisa memerosokkan banyak orang yang belum pernah membaca – atau hanya membaca setengah-setengah – karya Marx, Engels, dan Lenin.

Apakah masalahnya begitu sepele seperti yang dikemukakan oleh Ragil? Bahwa ini hanya masalah antara mana yang bertahan dan mana yang tersungkur? Bila demikian, Marxisme telah tersungkur berkali-kali, dan bahkan mengalami kekalahan telak yang membuat tidak sedikit para pejuang rakyat menyerah dan menerima keabadian kapitalisme. Kita memegang teguh Marxisme dan perjuangannya bukan karena ia telah bertahan dan menang, tetapi justru karena pemahaman akan gerak sejarah. Ketika Uni Soviet jaya, tidak sedikit orang-orang yang menjunjung tinggi Marxisme setelah fakta kemenangannya, tetapi beramai-ramai meninggalkannya ketika Uni Soviet tersungkur. Mereka-mereka inilah yang menjadi tulang punggung kaum birokrasi Uni Soviet, yang sebelum Revolusi Oktober skeptis terhadap – dan bahkan menentang – revolusi sosialis, dan setelah kemenangan Revolusi Oktober membanjiri Partai Bolsheviknya Lenin dan negara buruh Uni Soviet. Dengan pemahaman dangkal mereka, yang hanya pintar menerima fakta setelah ia terjadi, Marxisme hanya jadi alat pembenaran prasangka-prasangka mereka dan bukan sebagai metode analisa gerak sejarah. Kebijakan kaum Stalinis yang zig-zag, yang banting stir ke kiri dan kanan, adalah hasil dari empirisisme vulgar mereka, yang menerima fakta hanya setelah ia terjadi, tanpa bisa menjelaskan apa-apa. Baca Selanjutnya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cobalah Tengok

Dartar Isi